Advertisement

CINTA DARI PARABUBU: Jejak Kasih Live In SMPK Bina Wirawan “

Yasbin NET. Langit siang Kota Maumere pada Jumat, 15 Mei 2026, seakan ikut mengantar langkah penuh semangat rombongan Live In SMPK Bina Wirawan Maumere menuju Desa Parabubu, wilayah pelayanan Paroki Feondari. Tepat pukul 14.00 WITA, kendaraan yang membawa 13 guru dan 45 peserta didik melaju meninggalkan hiruk-pikuk kota menuju pelukan alam pedesaan yang tenang, hijau, dan penuh keramahan. Peserta didik yang tergabung dalam kegiatan ini berasal dari Kecamatan Mego, Kecamatan Tanawawo, serta kelompok ekstrakurikuler paduan suara, musik, dan voli. Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan sebuah peziarahan hati menuju sekolah kehidupan yang sesungguhnya.

Setibanya di Desa Parabubu, suasana hangat langsung menyelimuti rombongan. Senyum warga merekah bak mentari pagi yang memecah kabut pegunungan. Para peserta didik dibagi ke rumah-rumah warga untuk tinggal bersama selama kegiatan berlangsung. Di rumah-rumah sederhana itulah mereka belajar tentang arti keluarga, kesederhanaan, kerja keras, dan kasih yang tidak pernah dibuat-buat. Dinding bambu dan lantai tanah seolah berubah menjadi ruang kelas kehidupan yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan lebih dalam daripada ribuan lembar buku pelajaran.

Malam pertama live in diisi dengan doa rosario dan novena Roh Kudus. Dalam hening malam Desa Parabubu, suara doa para peserta didik melambung tinggi menembus langit, bagai dupa harum yang naik ke hadapan Tuhan. Cahaya lilin yang berkelip lembut seakan menjadi simbol iman yang terus menyala di tengah zaman yang semakin bising. Malam itu, desa kecil tersebut berubah laksana taman doa yang dipenuhi damai surgawi.

Memasuki hari kedua, Sabtu pagi, semangat peserta live in kembali menyala. Kelompok paduan suara dan musik mengikuti glady koor sebagai persiapan pelayanan liturgi untuk perayaan Ekaristi hari Minggu di stasi pusat Paroki Feondari. Nada demi nada dilatih dengan penuh penghayatan hingga udara pagi Parabubu terasa dipenuhi harmoni surgawi. Suara mereka mengalun bagai paduan suara malaikat yang turun menyentuh lembah dan perbukitan.

Di waktu yang sama, beberapa guru melaksanakan sosialisasi SPMB ke sekolah dasar terdekat. Kehadiran mereka membawa harapan baru bagi anak-anak desa, seolah membuka jendela masa depan yang lebih cerah. Kata-kata yang disampaikan bukan hanya promosi pendidikan, melainkan benih mimpi yang ditanam di hati generasi muda pedalaman.

Sore harinya, lapangan voli Desa Parabubu berubah menjadi lautan sorak dan gelak tawa. Pertandingan persahabatan bola voli antara peserta live in dan warga berlangsung meriah dan penuh keakraban. Bola yang melambung di udara seakan menjadi lambang persaudaraan yang menembus batas usia dan latar belakang. Tidak ada sekat antara guru, peserta didik, dan masyarakat; semuanya larut dalam sukacita yang sederhana namun begitu membahagiakan.

Ketika malam kembali turun menyelimuti desa, kegiatan dilanjutkan dengan doa rosario dan novena Roh Kudus hari kedua. Dalam keheningan malam yang hanya ditemani desir angin dan nyanyian serangga, doa-doa kembali dipanjatkan dengan khusyuk. Hati para peserta didik perlahan ditempa menjadi pribadi yang lebih peka, lebih rendah hati, dan lebih dekat dengan Tuhan.

Puncak kegiatan terjadi pada Minggu, 17 Mei 2026, yang juga bertepatan dengan Hari Komunikasi Sedunia. Dalam perayaan Ekaristi Kudus di stasi pusat Paroki Feondari, peserta didik kelompok paduan suara dan musik tampil begitu memukau. Suara mereka menggema memenuhi gereja, mengalir lembut seperti air kehidupan yang menyejukkan jiwa umat. Lagu-lagu liturgi yang dibawakan bukan hanya terdengar indah di telinga, tetapi juga menyentuh relung hati terdalam setiap orang yang hadir. Banyak umat terpukau dan terharu menyaksikan anak-anak muda yang dengan penuh cinta mempersembahkan talenta terbaik mereka untuk Tuhan.

Usai perayaan Ekaristi, rombongan kembali ke Desa Parabubu untuk mengikuti acara perpisahan bersama warga. Suasana haru perlahan menyelimuti pertemuan itu. Tawa yang selama dua hari memenuhi desa kini bercampur dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Kebersamaan singkat itu telah menjelma menjadi ikatan kekeluargaan yang sulit dilupakan. Desa Parabubu bukan lagi sekadar tempat persinggahan, melainkan rumah kedua yang meninggalkan jejak mendalam di hati para peserta.

Kegiatan live in ini menjadi lebih dari sekadar program sekolah. Ia adalah perjalanan batin, perjumpaan iman, dan pesta persaudaraan yang mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati sering kali lahir dari kesederhanaan. Dari desa kecil di kaki perbukitan itu, para peserta pulang membawa cerita, pengalaman, dan nilai kehidupan yang akan terus hidup dalam ingatan mereka—seperti nyala api kecil yang tak pernah padam diterpa angin zaman

.Penulis.Teacher Fransiskus Almadiu, S.Fil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *