
Suasana penuh semangat dan kreativitas mewarnai lingkungan SMPK Bina Wirawan Maumere. Pada penghujung masa studi siswa kelas akhir, sekolah menyelenggarakan kegiatan Praktikum Penilaian Akhir Jenjang untuk mata pelajaran Seni Budaya. Tahun ini, kegiatan tersebut mengusung tema yang sangat menginspirasi: “Berkarya, Bersinar, Berprestasi Dalam Citra, Gerak, Suara, dan Cerita”.
Kegiatan praktikum ini dilangsungkan selama 6 hari berturut-turut, dengan alokasi waktu yang sangat terfokus yakni satu hari untuk satu kelas. Antusiasme peserta didik terlihat begitu luar biasa. Mereka tidak sekadar menghadapi ujian, melainkan merayakan bakat dan minat yang selama ini telah mereka asah.

Implementasi Kurikulum Merdeka Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi
Ada hal yang istimewa dari pelaksanaan ujian praktik tahun ini. Strategi pelaksanaannya berlandaskan kuat pada filosofi Kurikulum Merdeka, khususnya penerapan metode pembelajaran berdiferensiasi.
Sistem penilaian tidak memukul rata semua siswa dengan satu jenis ujian yang sama. Sebaliknya, peserta didik diberikan kebebasan dan ruang berekspresi untuk memilih satu dari empat cabang seni sesuai dengan bakat dan minat dominan mereka yang selama ini telah diajarkan di kelas.
Melalui keempat cabang seni tersebut, peserta didik ditantang untuk menunjukkan kompetensi dan karya terbaik mereka:

1. Seni Musik (Suara): Peserta didik yang memilih jalur ini unjuk gigi dalam kemampuan vokal. Mereka ditugaskan untuk mengembangkan dan menyajikan lagu populer secara vokal solo, lengkap dengan penerapan teknik ornamentasi yang membuat lagu terdengar lebih indah dan berkarakter.
2. Seni Teater (Cerita): Kerjasama tim dan daya imajinasi diuji di sini. Para siswa harus mampu menyusun naskah orisinal dan mementaskan lakon teater secara berkelompok, menghidupkan karakter demi karakter di atas panggung.

3. Seni Rupa (Citra): Mengikuti perkembangan zaman, peserta didik yang meminati seni rupa diarahkan pada ranah digital. Mereka ditantang untuk membuat karya seni rupa terapan, khususnya desain grafis, dengan memaksimalkan penggunaan aplikasi Canva.
4. Seni Tari (Gerak): Kekayaan budaya lokal menjadi sorotan pada cabang ini. Peserta didik diwajibkan untuk menciptakan ragam gerak baru serta merancang pola lantai untuk sebuah karya tari kreasi daerah yang memukau.
Setiap penampilan dan karya dari masing-masing cabang seni ini dievaluasi secara objektif dan transparan. Kriteria penilaian pun telah disosialisasikan secara jelas jauh-jauh hari di dalam kelas oleh Guru Mata Pelajaran Seni Budaya, sehingga siswa dapat mempersiapkan diri dengan standar yang terukur.

Apresiasi dari Kepala Sekolah
Konsep ujian yang memerdekakan siswa ini mendapat apresiasi penuh dari pimpinan sekolah. Kepala Sekolah SMPK Bina Wirawan Maumere menyatakan rasa puas dan bangga melihat jalannya persiapan hingga pelaksanaan ujian ini.

Beliau meyakini bahwa konsep ujian berbasis diferensiasi semacam ini memberikan dampak jangka panjang yang positif. “Konsep ujian seperti ini akan sangat membantu peserta didik untuk terus mengenali, mengeksplorasi, serta mengasah bakat dan minat mereka. Sekolah tidak hanya menguji kognitif, tetapi juga memfasilitasi potensi unik dari setiap anak,” ungkapnya.


Melalui Praktikum Penilaian Akhir Jenjang ini, SMPK Bina Wirawan Maumere kembali membuktikan komitmennya dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kreatif, percaya diri, dan siap bersinar melalui citra, gerak, suara, dan cerita mereka masing-masing.

Ditulis oleh. Teacher Albert Ebe, S.Fil., Gr.


Leave a Reply